Beranda Edukasi SD Percik: Implementasi PAT Dalam Masa-Masa COVID 19   

SD Percik: Implementasi PAT Dalam Masa-Masa COVID 19   

3721
0
BERBAGI

OASENEWS.com – Dunia pendidikan seketika terhenyak saat wabah covid 19 melanda segenap belahan bumi. Serta merta seluruh lapisan dipaksa untuk beradaptasi dengan peradaban baru dalam melakukan proses pembelajaran dengan segala turunannya. Pun proses monitoring maupun pembinaan oleh para pejabat berwenang, tanpa kecuali semua harus mengikuti tata cara komunikasi yang selama ini tidak terbiasa dilakukan. Memasuki bulan ketiga, perlahan tapi pasti seluruh stake holder yang ada dalam dunia pendidikan sudah terbiasa dengan proses komunikasi melalui media on line, mulai dari proses pembelajaran, evaluasi, rapat-rapat, pengarahan dan sebagainya termasuk di dalamnya seminar. Kini media seperti Google Meets, Zoom meets, Skype, Avaya Space dan lain-lain bukan hal asing lagi dalam aktifitas sehari-hari.

Kehadiran Covid 19 benar-benar memaksa manusia untuk mengubah berbagai kebiasaan hidup, hal mana virus cerdas ini telah melarang manusia untuk saling berdekatan. Wabah ini sangatlah berbahaya, seperti halnya tayangan media on line dari berbagai belahan dunia menunjukkan betapa ganasnya virus ini. Sendi-sendi kehidupan pun luluh lantak seketika, mall besar tidak beroperasi, pasar tidak seramai hari-hari biasa, dunia penerbangan tidak bisa melakukan pelayanan, kapasitas transportasi sangat dibatasi, masjid, gereja juga pura tidak bisa beraktifitas, semuanya berupaya menghindar dari resiko terkena penyakit corona yang mengerikan.

Seluruh umat manusia sangat berharap penyebaran wabah ini dapat segera berakhir dan kehidupan menjadi kembali normal seperti sedia kala. Apakah kehadiran virus ini juga mendatangkan manfaat? Ya tentu saja, karena segala yang terjadi di muka bumi selalu membawa manfaat dalam kehidupan. Sementara penyakit corona menjadi momok yang menakutkan, namun di balik itu masyarakat menjadi waspada dan menjaga kebersihan dengan ekstra hati. Lain dari itu kebiasaan dan gaya hiduppun harus berubah sesuai kondisi. Tentunya pemahaman teknologi sebagaimana tersebut di atas menjadi hikmah lain dari kejadian yang dating dengan tiba-tiba ini.

Bagaimana SD Perguruan “Cikini” (Percik) mengimplementasikan hal ini? Sejak awal mengikuti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) selekas itu pula seluruh jajaran siap menghadapinya. Teknologi yang berhubungan dengan pembelajaran daring sudah menjadi menu sehari-hari, baik guru, karyawan, siswa maupun stake holder lainnya. Pembelajaran daring menjadikan siswa terbiasa dengan kemandirian dan kejujuran. Kemandirian terbentuk saat para siswa harus menjalani proses pembelajaran dengan segala aplikasinya yang melibatkan teknologi. Demikianpun dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan setelah didahului penjelasan, baik sekadar melalui google classroom maupun google meets atau media lain. Berbeda dengan belajar di kelas yang mendapatkan bimbingan penuh dari seorang guru. Bagaimana dengan kejujuran? Ini teruji saat siswa harus mengikuti evaluasi, di mana siswa mengerjakan soal tanpa pengawasan guru. Seperti halnya Penilaian Akhir Tahun (PAT) yang akan menjadi salah satu penentu dalam kenaikan kelas. PAT yang dilaksanakan 13, 15 dan 18 Mei dan dilaksanakan serentak dengan sistem on line tersebut menjadi momentum yang menarik bagi seluruh warga pembelajaran, di mana seluruh siswa serentak akan berada di depan layar komputer dalam waktu bersamaan. Meski demikian perlu juga strategi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak dikehendaki, termasuk di dalamnya kemungkinan terjadinya kecurangan. Untuk itu sekolah menentukan rambu-rambu serta prosedur penyelenggaraan PAT yang dilaksanakan dalam bentuk Final Test Mandiri seperti halnya harus mempersiapkan aplikasi Google Classroom dan Google Meet, Wajib On untuk video Google Meet, tidak diperkenankan meninggalkan tempat atau didampingi oleh orang lain, serta standar lainnya meliputi waktu, durasi maupun jumlah dan standar soal.

Kami menghendaki proses penilaian dengan Final Test Mandiri ini sedikitpun tidak mengurangi kualitas penilaian dibandingkan proses tes yang dilaksanakan di kelas sebagaimana berlaku dalam waktu-waktu sebelumnya, demikian Ervin Trisworo, S.Si, Kepala SD Perguruan “Cikini”.

 

LEAVE A REPLY