Beranda Peristiwa Masalah Hati Atau Playing Victim Wiranto ?

Masalah Hati Atau Playing Victim Wiranto ?

240
0
BERBAGI

Masalah hati atau Playing Victim Wiranto ?

Kejadian bermula secara tiba-tiba langsung menyerang Wiranto bersama rombongan yang hendak meninggalkan Helly Pad Lapangan alun-alun Menes, Pandeglang pada hari Kamis pukul 11.55 Wib. Wiranto ditusuk orang tak dikenal, aksi ini dihalang oleh ajudan dan aparat kepolisian.

Akibatnya Ajudan dan Kapolsek Menes Kompol Dariyanto,S.H,M.H mengalami luka. Luka tusukan akibat dari Kunai yang digunakan mirip Pisau Ninja tersebut menyebabkan Wiranto harus dioprasi, namun pihak keluarga menyebutkan operasi sudah selesai dilaksanakan.

Kejadian ini sungguh menjadi berita duka cita namun banyak juga yang beranggapan ini adalah sebuah Sandiwara. Tak bisa dipungkiri tak ada satu orang pun yang menginginkan dirinya celaka.

Kejadian Wiranto di Pandeglang banyak menuai belasungkawa dari berbagai elemen politik dan juga banyak menuai Opini dari semua kalangan masyarakat.

Beberapa sumber mengatakan bahwa pelaku penusukan Wiranto beralasan hanya ingin foto bersama kepada pejabat. Awalnya polisi berulang kali memperingatkan pelaku dan istrinya untuk tidak mendekat dikarenakan Angin dari helikopter akan sangat kencang.

Pelaku sempat menjauh namun tetap coba mendekati. Begitu Wiranto dan rombongan sampai pelaku langsung menikam dengan membabi buta Wiranto. Masyarakat dan polisi langsung menyergap pelaku dan langsung diamankan pihak kepolisian.

Kabarnya pelaku adalah salah satu korban gusuran Proyek tol Trans Sumatra. Dalam hal ini beberapa kalangan beropini bahwa Wiranto harus intropeksi diri. Tidak mungkin ada Asap jika tidak ada api, pasti ada sebab akibat dalam hal ini.

Memang hal ini bisa terjadi mungkin dikarenakan ada Kebijakan dan pernyataan Wiranto yang menyakitkan hati masyarakat, sehingga ia tak mampu membendung emosinya.

Namun walau begitupun, pelaku tetap salah dikarenakan ia tidak mampu menahan emosinya yang menyebabkan orang lain celaka. Seharusnya jika pelaku tidak menyukai kebijakan atau pernyataannya maka yang harus kritik adalah kebijakannya bukan melukai fisiknya.

Tidak hanya sampai disitu beberapa kalangan masyarakat dan akademisi menganggap hal ini juga dinilai sebagai Strategi politik seperti dalam buku Sun Tzu dalam teori Playing Victim yaitu sikap seseorang yang seolah-olah berlagak sebagai korban untuk berbagai alasan.

Dalam dunia politik strategi ini biasa digunakan untuk mencari simpatik. Teori ini adalah bagian dari strategi politik, seperti yang saya sampaikan diatas hal ini dianggap masyarakat adalah drama. Namun sampai saat ini kita tidak tau apa motif yang sebenarnya dibalik Kejadian Penusukan Wiranto.

Terlihat dari kondisi kejadian, hal tersebut banyak disaksikan anak-anak berseragam sekolah SD. Hal ini sebenarnya akan mengganggu psikologi mereka. Tak Sepatutnya anak anak berseragam SD begitu menyaksikan kejadian yang menyeramkan itu secara langsung.

Beberapa Psikolog menghimbau seluruh orang tua agar memberikan penjelasan yang baik kepada mereka agar tidak menggangu fikiran mereka dan psikologis mereka yang akan berdampak pada masa depan mereka.

Tak hanya sampai disitu begitu mengetahui kondisi Wiranto, Ketua Umum PDIP Megawati langsung menyampaikan bentuk belasungkawa dengan memberikan karangan duka cita di RSPAD.

Presiden RI Bapak Jokowi juga langsung melihat kondisi Wiranto. Jokowi meminta tuntaskan faham radikal. Beberapa elit politik menyampaikan ungkapan bela sungkawa kepada Wiranto. Seperti Puan Maharani ketua DPR RI menyampaikan penjagaan dan pengamanan kepada pejabat harus ditingkatkan.

Puan menilai biarkan polisi menyelesaikan tugasnya. Timbul juga pernyataan yang disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bahwa harus ada evaluasi keamanan tidak hanya untuk pejabat tetapi juga perlu untuk pengamanan pelantikan Presiden dan Wakil presiden pada 20 Oktober mendatang.

Kejadian yang menimpa Wiranto membuat kita harus tetap Waspada dalam setiap kondisi apapun dan selalu mawas diri. Kita tak pernah tau apa yang akan orang lain lakukan kepada kita.

Benar bahwa kita tak akan pernah bisa selalu membahagiakan atau bahkan hanya menyenangkan orang lain tapi mawas diri diperlukan untuk keselamatan diri.

Oleh : Amalia Azmi Sitorus

Mahasiswa Komunikasi Politik Universitas Paramadina.

LEAVE A REPLY