Beranda Headline Islam dan Pancasila Tak Perlu Dipertentangkan

Islam dan Pancasila Tak Perlu Dipertentangkan

22
0
BERBAGI

OASENEWS.com – Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai bangsa Indonesia seharusnya beruntung dapat tinggal di Indonesia dengan beragam suku, agama, ras, dan antargolongan. Indonesia adalah laboratorium dunia dalam belajar menyusun pondasi dari perbedaan politik.

“Banyak negara yang tidak dapat mengatur perbedaan dengan baik. Alhamdulilah, ukhuwah di Indonesia dapat dirawat dengan baik,” kata Adi dalam diskusi kebangsaan dan Deklarasi Cendikia Muda Muslim Indonesia (CMMI) dengan tema, “Peran Islam dalam Menjaga NKRI” di Museum Kebangsaan, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).

Ia menekankan bahwa kebersamaan dan jalinan persaudaraan antar bangsa penting dirawat sehingga integrasi nasional akan tetap kokoh.

“Ada studi perbandingan kenapa suatu negara demokrasi maju yang lain tidak, kuncinya adalah public trust (kepercayaan publik), jangan disepelekan kepercayaan terhadap orang,” kata dia.

Dalam diskusi ini, sejumlah tokoh turut hadir sebagai pembicara di antaranya Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat Asep Syaripudin, pengusaha Habib Abdul Qadir Assegaf, serta Pembina CMMI Troy Evelon Pomalinggo.

Seluruh pembicara sepakat untuk merawat kebhinnekaan dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara.

Pembina CMMI Troy Evelon Pomalinggo menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil ijtihad dari para ulama. Sehingga menurutnya Pancasila tidak perlu diperdebatkan lagi apakah sesuai syariat Islam atau tidak.

“Tak perlu kita berdebat soal syariat lagi. Pancasila sudah bagus dan dia paling bagus, semua diakomodir. Kalau kita tidak menghargai Pancasila, sama saja dengan menghina para ulama yang telah merumuskan Pancasila,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Habib Abdul Qadir Assegaf. Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam.

“Syariat ini menyangkut Aturan. Aturan bisa saja dibahasakan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, yang pasti (aturan itu) tidak melanggar syariat Islam. Kalau tidak melanggar syariat Islam pasti sudah sesuai dengan syariat Islam,” katanya.

LEAVE A REPLY