Beranda Edukasi Bela Negara Perguruan “Cikini”: Training of Fasilitator Bersama Kementerian Pertahanan

Bela Negara Perguruan “Cikini”: Training of Fasilitator Bersama Kementerian Pertahanan

382
0
BERBAGI

OASENEWS.com – Dalam rangka mengembangkan eksistensi kegiatan Bela Negara Perguruan “Cikini”,  Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Percik mengutus 10 (sepuluh) koordinator Bela Negara Unit SD, SMP, SMA1, SMA2, SMK1, SMK2 dan SMK3 Percik mengikuti Training of Facilitator (ToF) yang diadakan oleh Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan dan Keamanan. Program ini sekaligus merupakan realisasi atas kerjasama antara Percik dan Ditjen Pothan dalam rangka Penguatan Korps Bela Negara Perguruan “Cikini”. Pelatihan berlangsung sejak 22 Nopember hingga 2 Desember bertempat di Pusdiklat Badiklat Kemenham, Cibodas, Rumpin, Bogor.

Program Bela Negara merupakan satu di antara tiga standar Pendidikan Perguruan “Cikini” selain dari Standar Soft Skill dan The Innocreate School. Ketiga standar tersebut berjalan beriringan dengan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Korps Bela Negara Perguruan “Cikini” dibentuk sejak Tahun Ajaran 2016/ 2017, namun sempat terkendala beberapa saat bersamaan penyebaran wabah covid 19. Kini kegiatan tersebut kembali berlanjut dengan penanganan yang lebih intensitif dan mendalam. Untuk mendapatkan materi serta metode ataupun pendekatan yang tepat, Percik melakukan kerjasama dengan Kementerian Pertahanan dalam hal ini Ditjen Potensi Pertahanan.

Tujuan dari diselenggarakannya program ini adalah penanaman kesadaran akan pentingnya bela negara atas berbagai ancaman yang terjadi. Perlu diketahui bahwa kini banyak cara dapat dilakukan dalam menghancurkan atau melemahkan bangsa, mulai dari merusak generasi muda peredaran narkoba dan pornografi sampai dengan memecah belah bangsa melalui berbagai cara. Begitupun dengan peperangan antar bangsa yang tidak lagi sekadar menggunakan cara cara kasat mata seperti halnya pemanfaatan senjata untuk memusnahkan musuh. Cara-cara halus yang sering disebut sebagai proxy war justru sangat berbahaya. Salah satunya adalah dengan penguasaan ekonomi. Strategi ini menjadikan segala potensi ekonomi berada dalam kekuasaan asing, setidaknya untuk lini tertentu seperti halnya perdagangan.

Tidaklah sulit menemui berbagai fenomena tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perpecahan antar anak bangsa yang kian menjadi-jadi,  terlebih jika sudah terlibat dalam keasikan dunia politik yang tujuannya sekadar perebutan kekuasaan. Pun ketergantungan bangsa ini akan dengan kebutuhan produk-produk asing sebagai kebutuhan vital sehari-hari, mulai dari sekadar gadget sampai dengan kendaraan mewah, diperparah dengan sikap konsumtif dari sebagaian masyarakat. Tentu saja hal ini hanya akan memberikan keuntungan yang signifikan bagi para produsen yang kebanyakan adalah bangsa asing dengan penguasaan teknologi yang sangat maju.

Harus kita akui berbagai hal tersebut belumlah menjadi kesadaran masyarakat secara keseluruhan. Karenanya perlu pemahaman yang mendalam terhadap konteks bela negara secara luas demi ketangguhan negara ini dalam waktu ke depan. Ketangguhan akan pentingnya kejayaan negara Indonesia dalam berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi syarat utama dalam kemajuan peradaban sebuah bangsa.

LEAVE A REPLY